Inisiasi, Perenungan Akan Kebesaran Tuhan

Ada beberapa pengalaman menarik ketika saya lagi getol-getolnya plus lagi gatelnya suntuk di organisasi di Bali. waktu itu, kami, mahasiswa Hindu Bali mengadakan malam inisiasi, yang menurut pengalaman saya suatu pendoktrinan yang lebih hebat dari Penataran P4(zaman Soeharto alm.). Perenungan di tengah malam di sebuah Pura yang menjadi tempat Mpu Kuturan menyatukan sekte-sekte di Bali). Sungguh, pengalaman spritual hebat bagi saya. Bagaimana ketika para senior saya, macam Pasek Suardika, SH, Wayan Jondra dan lain-lainnya merecoki otak kita dengan ajaran-ajaran kebaikan;membela Hindu,Bali, mempertahankan NKRI,membuka kesadaran tentang Sang Hyang Embang. Tidak dinyana waktu itu disaat sebagian besar teman-teman kerauhan, saya hampir saja, kena imbas gelombang elektromagnetik kerauhan tersebut. Ketika itu, saya sudah merasa bagaimana ubun-ubun ini sudah seperti ada yang menekan dengan sangat berat. Tapi dengan seluruh kepasrahan jiwa-raga saya terhadap Hyang, dan ketenangan jiwa, akhirnya itu tidak terjadi karena saya tidak berkehendak untuk itu. Jadi, sebenarnya menurut saya kalau kita bisa mengontrol diri kita, kerauhan bisa dikendalikan.Menurut Prof Suryani, kerauhan juga diakibatkan karena ketidakstabilan emosi jiwa dan seseorang tersugesti,sehingga peluang menjadi trance sangat besar. Pelajaran yang saya dapat tentunya bagaimana kita sebagai mahluk Tuhan benar-benar merenungi kebesaran-Nya dalam praktek nyata kehidupan kita. Sembahyang saja tidak cukup untuk mengimplementasikan ajaran agama namun yang penting adalah pelaksanaannya.

Peace!

Manunggaling sabda,bayu lan idep!

Pengalaman Berorganisasi, Sejarah Hidup Tak Terlupakan

Sejak kecil, saya memang senang berorganisasi. Dengan kata lain, berorganisasi sesuai pengalaman saya, sering berada di jalanan, namun tetap berada di jalan yang lurus. Mungkin ini menurun dari bapak saya, yang pernah memegang berbagai jabatan formal, sosial hinggga politik. Waktu SMA saya pernah ikut P2M(Pemuda Panca Marga), karena kebetulan kakek seorang veteran,waktu kuliah di LP3I, saya diplot oleh teman-teman, jadi wakil ketua FKM(Forum komunikasi Mahasiswa)LP3I. Terus waktu kerja di Ubud, saya menjadi salah satu pendiri serikat pekerja di hotel Uma Ubud, tempat saya bekerja,itu tahun 2004 bulan Juli. Nama serikat pekerjanya pun saya kasi ide bernama SEKAR UMA(Serikat karyawan Uma), yang juga berarti bunganya Uma Ubud;karyawannya adalah ibarat bunga dari hotel Uma, bisa bikin harum). kemudian tahun 2004, saya bergabung ke sebuah organisasi mahasiswa Hindu tingkat nasional;KMHDI(Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia),karena saya juga mahasiswa waktu itu, awalnya di PC(pimpinan cabang) Denpasar. Kemudian oleh kawan-kawan PP(Pimpinan Pusat)dalam loka sabha, saya di plot membantu di PD(Pimpinan Daerah) Bali, sebagai koordinator Litbang(penelitian & pengembangan). Sebenarnya, masa bakti karmayoga saya di KMHDI sampai 2008 ini.Cuman karena saya harus mekuli keluar daerah, ya terpaksa dech jadi pengurus di dunia maya saja, cukup ngasi advice lewat mailinglist KMHDI, plus sekali-sekali conference call ma pengurus daerah. Terus, di kampus saya sendiri, Univ.Warmadewa, saya pendiri/deklarator PMHD(Pasemetonan Mahasiswa Hindu Dharma)tahun 2005. Ada kejadian menarik, ketika saya merancang logo PMHD. Saya aslinya tidak punya darah seni, tapi air seni sich punya, punya renungan akan bagaimana Tri Hita Karana, kemudian simbol dewata Nawa Sanga, Simbol Dewi Saraswasti, bunga padma,dan Swastika(lambang Hindu) terlebur menjadi satu.Kemudian tak suruh deh seorang teman dari Fakultas Sastra menggambarkan ide saya.Waktu itu kos teman kita jadikan markas besar. Sehingga lahirlah, lambang PMHD, Trisula Saraswati Padma Nawasanga, yang menurut beberapa dosen saya, lambang itu sangat metaksu, apalagi memang saya konsepkan lambang itu dengan background warna Tri Datu dengan guratan pepatran Bali. Klop dech!
Oya, beberapa kali karena ikut organisasi tingkat Bali, saya berkesempatan audiensi dengan tokoh-tokoh Bali, bahkan tokoh-tokoh preman sekalipun, adalah teman seperjuangan saya(dalam arti positif). Pernah ada peristiwa memorable dalam hidup saya ketika diwawancarai oleh beberapa tv asing dan lokal ketika kami mengadakan demo menuntut eksekusi segera Amrozy Cs di gedung DPRD Bali. Semua itu menjadi kenangan dalam sejarah hidup saya yang saya yakini pasti ada hikmahnya dikemudian hari. Yang penting saya tetap berbuat, benar salah, depang anake ngadanin aja!

Namaste!

Sirna Ilang Awidyaning Bhumi!!!

Who Am I??

Nama lengkap saya, I Made Dwija Suastana. Para sahabat,kolega, dan handai taulan, memanggil saya dengan nama singkat Dwija. Lahir pada tanggal 23 Oktober 1979, di sebuah desa di wilayah kabupaten Badung, Bali, bernama desa Sembung. Sembung adalah sebuah nama daun yang sering digunakan oleh masyarakat tradisional Bali untuk meramu obat panas dalam. Jadi ya berfungsi sebagai penyejuk perut. Dan rata-rata memang orang-orang desa saya,pada cool lho! Dibesarkan di lingkungan keluarga sederhana dengan pergaulan khas anak-anak desa, menjadikan saya hidup prihatin dari sejak kecil. Orang tua saya keduanya berprofesi sebagai guru/pegawai negeri. Bapak saya terakhir sebagai pengawas sekolah TK/SD Kecamatan Mengwi, sedangkan Ibu saya, sekarang masih sebagai kepala sekolah SD dekat rumah. Saya mempunyai seorang kakak perempuan dan satu orang adik laki-laki. Mereka sudah pada menikah. Cuman saya aja yang belum laku..kasihan ya! Masa-masa sekolah dasar saya habiskan di desa.Menginjak SMP, awalnya saya ingin sekolah di desa saja.Mengingat kemampuan otak yang pas-pasan. Namun, bapak bersikeras menyekolahkan saya di SMP favorit di kecamatan Mengwi. Saya minder, tapi apa mau dikata. Bahkan, saya disuruh tinggal di rumah saudara di Mengwi. Saya akhirnya sekolah dan tinggal di Mengwi. Menurut Bapak, saya sengaja disuruh tinggal disana, biar kepintaran saudara-saudara saya menular ke saya.Terbukti, mereka sekarang semua jadi-jadi(asal tidak menjadi jadi-jadian aja).Saudara-saudara saya rajin belajar sampai larut malam, tapi kalau saya, rajin meniduri buku hingga larut malam, biar kesannya rajin belajar. Jadi, disiplin saya waktu itu sangat terpaksa.Sehingga hasilnya tidak bagus. Pelajaran yang saya paling suka “hanya” bahasa Inggris, sedangkan yang paling saya benci, matematika dan sebangsanya. Karakter saya dalam pergaulan, senang berteman, tapi awalnya saya pasti pendiam. Tapi kalau sudah nyambung dengan lawan bicara, biasanya, yang saya ajak bicara minta time out, alias menyudahi pembicaraan. Bapak saya dengan karakternya yang keras, begitu dominan dalam mengarahkan masa depan saya. Setamat SMP, saya maunya melanjutkan ke sekolah pariwisata favorit di kecamatan Mengwi, tapi lagi-lagi, bapak menjadi “batu sandungan”, saya disuruh sekolah di SMA umum bukan sekolah kejuruan. Menurut Bapak, agar nanti saya bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi secara bebas. Ciri khas pendiam tetap saya pertahankan pada saat SMA, termasuk dalam hal interaksi dengan lawan jenis. To be honest, cukup banyak saya “kena tembak” dari cewek-cewek yang naksir saya. Tapi, dasar saya kuper bin pemalu, jadinya ya malu-maluin..heehehe! Waktu SMA saya senang ikut kegiatan-kegiatan yang mengundang rasa nasionalisme, seperti Kirab remaja, Penggerek Bendera, Paskibraka, dan lain-lainnya. Namun OSIS,saya tidak ikut karena waktu zaman saya, OSIS itu kumpulan orang-orang pintar, sedangkan saya masih mengaku-ngaku pintar. Ada hal yang paling berkesan pada saat saya SMA, yakni ketika, saya menjadi pengibar bendera merah putih, tergabung dalam paskibraka kecamatan pada waktu 50 tahun Indonesia Emas, dimana pada waktu itu, saya selaku pengulur tali tiang bendera, ternyata salah memberikan tali kerek ke teman saya, posisi tali terbalik, kita jadinya saling tarik-tarikan. Untungnya guru saya, yang bertugas jadi juru foto, memberi kode agar saya yang menarik tali kerek.Syukur akhirnya bendera merah putih sukses berkibar. Tapi, saya malunya bukan main karena, pada saat latihan sangat oke, namun pas hari H, gagal. Saya menangis waktu itu! Sehingga setiap tanggal 17 Agustus, pasti saya ingat kejadian, saling tarik menarik tali tiang bendera itu. Singkat cerita, saya lulus SMA tahun 1997. Pada awalnya, saya fokus ingin melanjutkan ke STP (Sekolah Tinggi Pariwisata) Nusa Dua. Namun, saya disuruh ikut testing STPDN ( Sekolah Tukang Pukul Dalam Negeri) yang terkenal itu. Ini awal bencana saya, durasi testing sekolah para demang ini demikian panjang sehingga saya tidak bisa fokus ikut testing di sekolah lainnya. Sebut saja, test UMPTN saya gagal, test, POLTEK gagal,melirik sekolah lain juga saya tidak sempat. Bapak begitu menggebu-gebu mengharapkan saya lulus tes STPDN ini, sampai-sampai bapak mencari “orang-orang sakti” kemana-mana, mulai dari pejuang Bali bapak Item dari Singaraja, sampai Wakil gubernur Bali waktu itu, Pak Ketut Wijana(yang kebetulan dari desa saya). Namun, takdir berkata lain, saya gagal di tes terakhir di Bali. Tentu saja saya shock berat. Bapak saya lebih shock lagi, karena merasa usaha kerasnya gagal. Sampai-sampai saya ditenung oleh seorang Balian dari Singaraja, yang padahal Bapak kerumah Balian itu secara tidak sengaja,dan menenung saya. Dikatakan oleh paranormal ini, saya ini lahir sedang kena hukuman, katanya saya tidak akan jadi pegawai negeri, dibidang ekonomi tidak ada nasib, pariwisata juga tidak akan jadi, jodoh masih jauh, cuman katanya saya tekun, paranormal itu juga balik bertanya apakah dengan ketekunan saya akan membebaskan saya dari hukuman karma masa lalu, dia tidak berani mengatakan dengan alasan etika profesi. Begitu ini disampaikan ke saya, bertambah shock lah saya, otak ini macet 2 bulan, uring-uringan dengan berbagai kegagalan. Sempat luntang-lantung akhirnya saya iseng baca koran, ternyata masih ada sekolah akademi yang buka. Ya, LP3I (Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi Indonesia. Akhirnya saya kuliah disitu. Pada awalnya hanya sekedar ingin kuliah, tapi lama-lama saya benar-benar kuliah disana. Hal ini dikarenakan, kurikulumnya bagus dan dosen-dosennya pun berkualitas(bukan promosi lho). Rasa percaya diri saya pulih di LP3I karena kita benar-benar dilatih disana. Belajar ngomong di depan banyak orang, dsb-nya. Pokoke, antara teori dan praktek balance dech! Termasuk bakat terpendam saya akhirnya terbongkar disana, saya tanpa diduga di plot oleh teman-teman menjadi pengurus FKM(forum komunikasi mahasiswa) LP3I. Jadinya, seneng dech..bisa ngumpul sama teman-teman, lirak-lirik cewek cakep. Dan, ya sempat kecantol satu, sama gadis keturunan, tapi ya..biasa cinta monyet baru dewasa, ga ku ku. Singkat cerita, saya lulus dari LP3I tahun 2000, dengan predikat, lulusan terbaik III, bahkan saya sempat mengisi pesan dan kesan wisudawan yang saya sampaikan tanpa teks selama 20menit, penuh kritik tajam menakutkan, sampai membuat temen saya yang tukang kritik dari Batak, menjabat tangan saya, salut katanya. Selepas LP3I, saya, langsung kerja di sebuah Villa di Seminyak, Kuta. Waduh…pengalaman kerja yang runyam, karena saya cuman digaji, Rp. 169.200,- + service charge. Menyedihkan! Tapi sebagai pengalaman pertama, OK lah. Setelah itu, saya melanglang buana ke daerah pariwisata Ubud. dari pertengahan tahun 2000 sampai dengan 2007 saya menghabiskan waktu bekerja di Ubud dengan tiga kali pindah kerja, pertama di Ibah Luxury Villas, kemudian Puri Wulandari Boutique Resorts & Spa, sampai di Uma Ubud Hotel. Oh..ya…dari tahun 2003 saya nyambi kerja sambil kuliah. Alasan kuliah lagi karena saya kena pengurangan hari kerja akibat efek Bom Bali I , tahun 2002 kemarin itu. jadinya, ya stress ga ada aktifitas. Untungnya disetujui oleh orang tua saya. Saya akhirnya kuliah di Denpasar, tepatnya di Universitas Warmadewa mengambil jurusan Hukum. Kenapa Hukum? karena saya ingin menjadi kelian desa kelak kalau sudah tua…hahahahaahaha! Paling tidak jadi Personalia kalau di hotel. Oya, Waktu kerja di Uma Ubud, saya sempat dapat The best employee of the year. Saya pun sempat dapat hadiah jalan-jalan ke Thailand.Dapat nonton tarian striptease lho!!!Tapi menurut saya itu cuma faktor kebetulan saja, padahal banyak kok teman2 kerja yang lebih hebat dari saya. Faktor Luck saja.Ada pepatah mengatakan, “banyak orang pintar di dunia ini, tapi tidak ada yang bisa mengalahkan orang yang beruntung”. Semoga saya menjadi orang yang beruntung itu.
Kuliah di Universitas Warmadewa menjadi pilihan saya karena relatif dekat dengan Ubud. Senang hati saya kuliah, disamping menimba ilmu, juga bisa menimba susu..hehe! Disana bisa lihat yang seger-seger, alias bronis, alias brondong manis..hehehe! Namun ternyata, lagi-lagi jiwa berorganisasi saya tumbuh, di kampus pada tahun 2004, terbersit niatan saya membentuk sebuah organisasi mahasiswa Hindu. Yang jelas saya sudah punya konsep awal organisasi itu. Sebelumnya, saya bergabung di sebuah organisasi berskala nasional bernama KMHDI(Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia). Setelah mendapat sedikit gambaran tentang sebuah organisasi Hindu, akhirnya, dengan berdasarkan kuesioner dan dukungan teman-teman Universitas Warmadewa, khususnya fakultas hukum, pada tahun 2005, tanggal 11 Juni, Sabtu Wage, terbentuklah sebuah organisasi mahasiswa Hindu universitas Warmadewa yang dikenal dengan nama PMHD(Pasemetonan Mahasiswa Hindu Dharma). Pada saat deklarasi kebetulan sekali kami kedatangan mahasiswa Hindu Malaysia yang sedang berdharmayatra ke Bali. Menjadi aktivis organisasi mahasiswa saya lakukan ditengah kesibukan bekerja di hotel, disamping juga kuliah. Dengan perjuangan sangat berat, dengan dukungan teman-teman, pacar, orang tua dan leluhur, akhirnya pada tanggal 17 September 2007, saya diwisuda menjadi sarjana hukum dengan predikat kelulusan CUMLAUDE dengan IPK, 3.52. Yach lumayan! Seminggu setelahnya, Uma Ubud memberi saya kesempatan untuk bekerja di luar negeri. Saat ini saya sedang bekerja di Parrot Cay Resorts & Spa di kawasan kepulauan Karibia, tepatnya, di pulau Turks & Caicos, dekat Miami, Florida USA. Sungguh suatu hal yang tidak saya duga sebelumnya bahwa saya akan berada jauh dari orang-orang terdekat saya! Tapi apa boleh buat, jalani saja. Dan, harapan saya semoga”Nghing Aywa tan Sthiti, Sumewake Sang Hyang Aji” semoga saya tetap bisa berpegang teguh terhadap ajaran-ajaran dan pengetahuan suci. Om Hyang Widhi, semoga menganugrahkan jalan yang terang!( Kidung Sewa Dharma.40).

Salam dari anak pulau,

Satria Madangkara

Manusia Bali, Antara Harta & Karakter Asli

Dewasa ini, ketika segala sesuatu dapat diukur dengan uang, apapun keinginan seseorang, maka uang yang menjadi panglimanya. Bahkan kerapkali kita melihat, mendengar, membaca, manusia berperang, berkelahi, dengan sesamanya hanya gara-gara uang. Uang, uang, dan uang. Bagaimana dengan manusia Bali????

Tidak dapat dipungkiri, telah terjadi banyak pergeseran tata nilai yang kini tengah menjangkiti manusia Bali. Masyarakat Bali yang dikenal begitu ramah, murah senyum, tenggang rasa dan sifat-sifat baik lainnya, mengalami dinamika yang begitu drastis. Perkembangan dunia pariwisata di Bali yang demikian pesat, turut mempengaruhi karakter asli orang Bali. Gemerincing dolar, gaya hidup ala barat, menjadi keseharian sebagian orang berduit di Bali. Tidak mau kalah, kaum menengah pun tidak mau ketinggalan, dengan berbagai cara, mereka berusaha mengikuti arus zaman. Entah dengan cara kredit, menggadai, dsb, orang-orang pada berlomba-lomba agar dapat memiliki motor atau mobil baru misalnya. Sehingga tidak mengherankan, macetnya jalanan di Bali, sedikit tidaknya dipengaruhi oleh hal ini. Kompetisi hidup manusia Bali cenderung mengarah ke hal-hal yang tidak sehat. Sebut saja suatu kasus, misalnya Pan Anu punya mobil baru atau naik jabatan, sontak saja tetangganya pada bikin gosip,bahkan karena sifat dasar iri hati, ada yang sampai tega mencarikan ilmu hitam. Itu terjadi di desa saya. Bahkan, terakhir, seperti ramai diberitakan media lokal Bali, terbius ingin menguasai harta pasiennya, seorang dukun tega menghabisi sebuah keluarga di Karangasem. Duh! Gejala Apa ini?? Ini pun adalah secuil kasus dari sekian banyak kasus yang terjadi dalam masyarakat Bali.
Pengalaman saya saat ini, kebetulan merantau ke luar Indonesia, dan berada ditengah komunitas pekerja dari Indonesia( Bali mayoritas). Sungguh membuat saya berdecak…bukan berdecak kagum..namun…mengelus dada mengamati perilaku orang-orang kita(Indonesia-Bali), yang sedemikian ironis dengan keseharian kita di Bali!!!Tapi tolong dicatat, bukan saya bermaksud sok suci..tapi ini adalah pengamatan saya sebagai penulis blog ini, jadi anggap saya tidak terlibat didalamnya…(padahal ada ditengah-tengah mereka..hehehe). Singkatnya begini, terkait dengan paragraf pertama diatas, kalau saya amati kehidupan orang-orang Indonesia(Bali) di tempat saya mencari sesuap nasi, sangat jauh dari keseharian hidup pada waktu mereka di Bali. Contoh, kalau di Bali, orang-orang Bali yang bergelut dalam pekerjaannya begitu cool, tanpa neko-neko dan seleg. Rasa tepo seliro antar rekan kerja begitu alami dan bagus. Namun ditempat saya, Mimih dewa ratu!! Saya dapat katakan, berbalik 180 derajat celcius! Kawan sendiri disikat!, Tidak peduli, kita berasal dari daerah yang sama. Memang ada perkumpulan pekerja Bali di tempat saya, tapi feeling saya mengatakan ITU SEMUA SEMU! PENUH KEPALSUAN!!! Yang baca artikel ini bisa protes ke saya, nanti akan saya berikan jawaban super gamblang, tenang aja, OK!? Demi uang dan kedudukannya, orang menghalalkan segala cara. Tapi dipermukaan semua SOK SUCI! Gila Bener!!!!….Tapi mungkin saya juga termasuk..pokoke, Depang anake ngadanin!

Persatuan yang ada antara pekerja dari Bali(Indonesia) bersifat semu alias hanya dipermukaan saja. Hari ini kita begitu baik dengan teman kerja, besoknya mungkin bisa jadi musuh, karena suatu hal, mungkin karena masalah pekerjaan, atau memperebutkan tulang tanpa isi. Tapi itu adalah realita. Individualisme menjadi paham lama yang menjangkiti pekerja Bali di tempat saya bekerja sekarang. Mungkin ini yang menyebabkan posisi tawar pekerja Bali disini sangat lemah, Padahal belum ada yang sampai kena lemah syahwat, tapi kita begitu mudah di adu domba oleh kapitalis barat yang membayar kita dengan murah. Tapi ini sudah menjadi resiko kita, mau apa lagi!!!Dari segi skill, padahal kita diatas rata-rata pekerja lainnya, baik dari Thailand, Filipina, Australia,Singapore dan bahkan orang lokal sekalipun, yang hanya menang omong besar saja!

Masih ingat dengan tokoh sangut, atau sekuni dalam cerita pewayangan?? Nah, kalau ditempat saya kerja, siapa yang bisa memerankan tokoh itu dalam panggung sandiwara tempat saya kerja, dia akan selamat sentosa dan dapat kedudukan nyaman dan disayang bos! Lucunya, mungkin sudah takdir, tempat karyawan sering nongkrong, dinamakan dengan CENK BLONK!! CENK BLONK adalah nama grup wayang terkenal di Bali. Sehingga klop-lah, kita memerankan berbagai karakter pewayangan,namun, perlu dicatat, tokoh sangut atau sekuni-lah yang paling sering diperankan di CENK BLONK!

Apa yang Harus Dilakukan??

Yach…Saya tidak tahu…yang jelas, jalani apa adanya, tidak mencoba tuk menjadi sangut, atau, delem, atau yang lainnya. Tapi kalau pekerjaan saya sich delem sangut merdah tualen!tahu artinya?? Coba?? heheehehe…..

Rahajeng!

Satria Madangkara!

Jakarta Sudah Tenggelam, Denpasar Bagaimana?

Jakarta Sudah Tenggelam, Denpasar Bagaimana?

Ibu kota Jakarta tenggelam oleh banjir menjadi berita hangat beberapa hari terakhir sebetulnya sudah menjadi “agenda tetap tahunan” pusat pemerintahan di Indonesia tersebut. Namun, ditengah dinginnya air banjir, beritanya semakin hangat tatkala orang-orang paling berkuasa di republik ini, seperti RI 1 & RI 2, terjebak dan ikut kecipratan “anugrah” yang didambakan oleh masyarakat Gunung Kidul, Jawa Tengah tersebut. Apalagi, etalase Jakarta seperti bandara Soekarno-Hatta terkurung oleh air telah membuat ratusan penerbangan nasional dan internasional mengalami postphoned(penundaan) bahkan pembatalan(cancellation). Secara topografis, Ibu kota Jakarta memang terletak di daerah dataran rendah sehingga memperlancar air bah mengacaukan aktivitas warga metropolitan. Ibarat kapal penumpang, Ibukota Jakarta sudah sarat dengan beban, apakah beban sosial, beban konstruksi, dan bahkan beban pikiran.Semuanya tercurah di kawitan-nya si Pitung tersebut. Segala macam beban tersebut menjadikan Ibu pertiwi Jakarta stress, kemudian marah dan akhirnya dilampiaskannya dengan menangis.Namun sayang, air mata Ibu pertiwi Jakarta demikian banyaknya sehingga tidak dapat tertampung oleh anak-anaknya yang memang ‘bandel-bandel’.

Denpasar Harus Bercermin
Kota Denpasar sebagai pusat segala aktivitas penduduk Bali, sebetulnya sudah mengalami apa yang menimpa Jakarta secara rutin, bahkan yang terakhir sampai membuat beberapa penduduk di wilayah Denpasar Selatan mengungsi mencari tempat aman. Secara topografis, Ibu kota propinsi Bali ini pun terletak di daerah dataran rendah yang memang rentan dengan serangan banjir yang tak urung membuat Denpasar menjadi pelanggan tetap banjir tiap tahunnya. Hal ini diperparah dengan tidak maksimalnya pemanfaatan potensi efektif Denpasar yang sebenarnya mampu meminimalisir efek air hujan yang berlebih. Potensi efektif yang dimaksud diantaranya pemanfaatan tukad badung sebagai ‘banjir kanal timur’-nya Denpasar, kemudian efektifitas got/saluran air di pemukiman penduduk dan perkantoran.
Aliran air tukad badung yang membelah kota Denpasar mengalir dari hulu Badung utara demikian deras mengalir sampai wilayah Mambal kemudian mulai berkonvoi begitu memasuki wilayah Denpasar. Hal ini disebabkan beberapa faktor, diantaranya terjadinya pendangkalan di beberapa DAS (daerah aliran sungai) begitu memasuki wilayah kota yang diakibatkan oleh aktivitas-aktivitas sosial-ekonomi di sekitarnya, seiring demikian pesatnya perkembangan pembangunan di kota Denpasar. Untuk membangkitkan potensi tukad badung sebagai sumber daya alam pencegah banjir, pengerukan-pengerukan di wilayah sungai yang mengalami pendangkalan perlu dilakukan secara berkala dan ini berlaku juga untuk anak-anak sungai atau sungai kecil yang ada disekitarnya. Kegiatan ini pun tidak perlu mengeluarkan biaya besar asalkan pemerintah kota mampu menggalang partisipasi warga kota/desa pekraman secara aktif. Upaya pemkot selama ini baru bersifat temporer bahkan ada yang bersifat ‘sedikit politis’,sedangkan yang sangat diperlukan adalah upaya berkelanjutan yang melibatkan segenap komponen masyarakat secara aktif. Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah aktivitas proyek fisik. Harus diakui, pesatnya aktivitas fisik di kota Denpasar adalah demi kepentingan dan kebutuhan warga kota ke depannya. Proyek fisik seperti bongkar pasang pipa air, kabel telepon atau proyek yang sering kita dengar dengan istilah DSDP(Denpasar Sewerage Development Project) hendaknya benar-benar memilih timing yang tepat. Kalender proyek yang dijadwalkan menjelang musim penghujan berdampak pada kualitas proyek yang tidak maksimal, sehingga potensi bongkar pasang menjadi pemandangan rutin tiap tahun. Atau mungkin karena bernama proyek biar dapat obyekan?
Trotoarisasi sebagai upaya memperindah kota boleh dikatakan sebagai “syarat fisik” suatu wilayah agar dapat dikatakan sebuah kota disamping alasan utamanya adalah sebagai akses untuk para pejalan kaki. Hampir sebagian besar trotoar di kota Denpasar dibuat melintang dengan menutupi got/saluran air baik yang ada di depan pemukiman penduduk ataupun di depan perkantoran. Tetapi, hal yang rutin terjadi pada saat musim penghujan tiba, trotoar malah menjadi tidak efektif karena membuat ruas jalan menjadi sungai dadakan diakibatkan tidak lancarnya air hujan menuju got atau saluran air yang ditutupi oleh beton trotoar. Terkait dengan mental manusia Indonesia, sering kali lubang kecil diantara trotoar itu dimanfaatkan sebagai tempat pembuangan sampah, sehingga menambah penderitaan petugas kebersihan ketika berjibaku memperlancar saluran got dibawah trotoar.

Langkah – langkah Terpadu
Penanganan banjir khususnya di kota Denpasar hendaknya melibatkan seluruh komponen masyarakat tanpa kecuali.Apalagi momentum HUT Pemkot Denpasar XVI ini mengambil tema sentral lingkungan. Sekiranya walikota Denpasar beserta jajarannya tahu apa yang harus dilakukan untuk mengamankan tema ini menjadi implementasi nyata dalam setiap detak-detik denyut nadi warga kota Denpasar. Pemerintah kota Denpasar harus diakui sudah berupaya maksimal dalam mengatasi problem sosial ini, program-program bernuansa lingkungan yang telah ada harus benar-benar menyentuh relung kesadaran warga. Sanksi tegas bagi kriminal lingkungan seperti pembuang limbah sablon ataupun limbah rumah tangga ke sungai haruslah tanpa basi-basi. Pembinaan mental warga terhadap arti penting lingkungan hendaknya ditanamkan di taman hati warga kota sejak dini. Demikian juga pemberian reward bagi warga kota dalam pelombaan pelestarian lingkungan diharapkan dapat memacu masyarakat Denpasar untuk tidak hangat-hangat tahi ayam dalam merawat lingkungan disekitarnya. Momentum HUT Kota Denpasar tahun ini semoga menjadi refleksi kesadaran segenap warga kota akan betapa pentingnya kelestarian lingkungan sebagai warisan tak ternilai bagi generasi berikutnya. Semoga!(Artikel ini sudah dimuat dalam situs pemerintah kota Denpasar).

Revitalisasi Adat Bali Secara Bijak

Revitalisasi Adat Bali Secara Bijak

Sebuah Nostalgia

Pulau Bali adalah sebuah pulau yang sangat unik dan begitu dikagumi oleh orang-orang dari seantero jagat. Betapa tidak, para wisatawan datang berbondong-bondong ke Bali untuk melihat keunikan Bali.Umumnya mereka berwisata ke Bali bukan untuk melihat gedung-gedung bertingkat,ataupun beton-beton bertulang.Namun ada sesuatu di Bali yang berbeda dari negaranya,yang wajib untuk dinikmati.Apa itu? Kita tentu sepakat bahwa adat istiadat dan budaya Bali menjadi tulang punggung denyut nadi pariwisata Bali selain alam pulau seribu pura nan eksotik.
Masyarakat Bali sejak zaman Mpu Kuturan mengenal sistem Kahyangan Tiga yang dalam kehidupan sosial masyarakatnya di-implementasikan dalam wadah desa pakraman yang terbagi lagi dalam konsep banjar-banjar. Konsep yang adiluhung ini sekaligus menjadi pilar utama kehidupan masyarakat Bali dalam menopang adat dan budayanya yang diwarisi sampai sekarang.
Tidak dapat dipungkiri, adat istiadat begitu merasuk dalam setiap sendi kehidupan orang Bali. Sistem desa pekraman yang didalamnya terdapat tiga unsur utama, yakni Tri Hita Karana di-implementasikan dalam konsep Tri Kahyangan, yang mencakup tiga tempat suci, Pura Desa, Pura Puseh dan Pura Dalem. Ajaran Mpu Kuturan yang begitu agung ini, benar-benar menjadi pilar utama penyangga kehidupan manusia Bali. Kegiatan ngayah sebagai bagian dari pelaksanaan konsep Tri Kahyangan,dijalankan oleh desa pekraman menurut desa,kala,patra di masing-masing desa pekraman dan biasanya diatur dalam awig-awig desa pekraman setempat. Pengaturannya pun sedemikian rupa dilengkapi dengan sanksi bagi pelanggarnya. Pada era 80-an ke bawah, pertanian menjadi sumber penghasilan penduduk Bali yang utama. Persawahan yang menghampar hijau nan luas membentang dari barat ke timur dan dari selatan ke utara. Daerah Kuta dan Kerobokan sekarang, dulunya adalah areal persawahan hijau yang subur karena mendapat aliran air yang banyak dari daerah hulu.Pada saat itu, sistem pengairan tradisional Bali yang lebih dikenal dengan Subak menjalankan fungsinya dengan baik.
Demikian kalau kita bernostalgia mengenang zaman keemasan pertanian Bali.Bagaimana sekarang? Sungguh suatu kenyataan yang tragis, yang tidak mengada-ada, dewasa ini tata ruang Bali boleh dikatakan sangat amburadul, tanpa master plan yang jelas. Masing-masing ‘raja-raja kecil’ di kabupaten /kota, menjalankan roda pemerintahan terkesan tanpa koordinasi dari propinsi, terbukti kisruhnya rencana pembangunan lapangan golf di wilayah Besakih, berdekatan dengan kawasan suci Pura Besakih dan masih banyak contoh lainnya yang mencerminkan betapa pemerintah daerah Bali harus betul-betul melakukan mulat sarira, mau di bawa kemana pulau Bali ini?

Desa Pekraman Sebagai Benteng Yang Tangguh

Di Bali, eksistensi desa pekraman begitu nyata dalam mendorong terciptanya stabilitas ekonomi,sosial dan budaya. Tatanan desa pekraman yang diwarisi sejak zaman Mpu Kuturan memberikan energi positif dalam gerak langkah manusia Bali yang dulunya mayoritas adalah sebagai petani. Dewasa ini, mobilitas manusia Bali berjalan dengan sangat cepat, terlebih dengan adanya booming pariwisata sejak akhir era 80-an, menjadikan manusia Bali begitu dinamis dan cepat terpengaruh arus modernisasi. Kalau dulu orang Bali banyak yang tidak berpendidikan, sekarang banyak dari mereka yang sudah bergelar sarjana, lebih banyak yang pindah tinggal di kota, karena alasan ekonomi maupun karena belajar. Hal-hal ini sepertinya tidak bisa dikendalikan seiring dengan perkembangan zaman yang sangat cepat dan global. Kecenderungan orang Bali untuk tinggal di kota dikarenakan banyak faktor, diantaranya, segala fasilitas untuk memenuhi tuntutan hidup modern lebih banyak ada di kota, bisa juga karena gengsi. Harus diakui untuk urusan yang satu ini, prestise bagi orang Bali harus diakui menempati rangking yang tinggi.Sehingga kompetisi antar orang Bali secara ekonomi pun berlangsung seru menjalar kemana-mana, di kota maupun di desa. Sebagai suatu konsekwensi hidup hal itu adalah sangat wajar asalkan berjalan secara sehat dan tidak merugikan pihak lain. Bagaimana dengan kehidupan adat Bali? Seperti disampaikan oleh pengamat hukum adat Bali, Wayan P. Windia (Bali Post, Edisi 26 Januari 2008), adat istiadat Bali yang begitu kuat membelenggu memang perlu direvisi sesuai dengan perkembangan zaman. Kalau ditarik ke belakang, bagaimana Mpu Kuturan merumuskan konsep Tri Kahyangan dengan Desa Pekraman sebagai tiang penyangganya, adalah disesuaikan dengan kondisi masyarakat Bali pada saat itu yang hampir seluruhnya adalah petani tulen. Kalau dihadapkan dengan kondisi sekarang seperti gambaran diatas, apakah masih bisa awig-awig yang kaku dipertahankan? Berbagai kasus adat yang setiap tahun selalu saja terjadi membuat kita prihatin, beginikah orang Bali dalam me-desa adat? Tentu kasus yang terjadi tidak bisa kita generalisir, namun biasanya seperti kata pepatah”nila setitik rusak susu sebelangga” menjadi suatu hal yang perlu dipertimbangkan. Karena bagaimanapun segala sesuatu yang terjadi di suatu titik tempat di Bali, orang luar biasanya akan mengambil hipotesa bahwa itu terjadi di Bali,Bali dan Bali. Nama Bali yang sudah dikenal oleh seantero dunia menjadikan Bali sudah menjadi “milik” dunia. Untuk menjadikan Desa Pekraman sebagai benteng bagi Bali, sudah selayaknya paradigma masyarakatnya diubah secara perlahan dengan merevisi awig-awig yang tidak sesuai dengan dinamika zaman sekarang. Pemerintah dari semua tingkatan di Bali melalui instansi terkait hendaknya benar-benar terjun ditengah-tengah masyarakat, melakukan monitoring secara kontinyu. Desa Pekraman di Bali adalah warisan leluhur yang patut dijaga kelestariannya dengan tetap memperhatikan kearifan lokal tanpa mengabaikan perkembangan zaman. Kesamaan visi dan gerak langkah semua pihak sangat diperlukan untuk menjaga ke-ajegan adat Bali sebagai warisan budaya satu-satunya di dunia ini.(Artikel ini sudah dimuat di Bali Post edisi 1 Februari 2008).

Pelecehan Agama Hindu di Indonesia

Dear all,

Sudah sering kita dengar, baca dan amati kerapkali terjadi pelecehan yang dilakukan oleh oknum/sekelompok oknum agama tertentu terhadap agama Hindu di Indonesia, tengok saja kasus heboh bagaimana seorang Menteri di republik ini pernah mengatakan”relakah bangsa Indonesia dipimpin oleh presiden beragama Hindu??Yang tentu memancing reaksi spontan umat Hindu di Bali untuk memprotes sang menteri,sehingga melahirkan kekuatan “AUM” di Bali pada era1998an.Belum lagi pelecehan simbol-simbol keagamaan Hindu yang kerapkali dilakukan untuk mencederai hati orang Hindu(baca:Bali). Demikian seklumit kisah dari sekian banyak cerita mengenai pelecehan agaman Hindu di Indonesia.Agama Hindu mengenal toleransi dan penghormatan terhadap agama lain yang sedemikian tingginya.Kandungan Weda sebagai kitab suci agama Hindu yang sedemikian dalam dan universal, mejadikan agama tertua di sekalian alam ini begitu lentur dan senantiasa mengikuti perkembangan jaman.Seorang cendikiawan Hindu Bali,Ngakan Made Madrasuta, dalam bukunya:”Hindu akan ada Selamanya” mengutip Shri Ramakrishna Paramahansa, bahwa agama Hindu telah ada sejak dahulu kala dan akan ada selamanya,agama-agama yang lain,kultus-kultus modern akan ada untuk beberapa hari dan kemudian akan hilang lenyap. Apa yang disampaikan oleh Mahaguru dari Swami Vivekananda ini sungguh sangat beralasan dan begitu mendalam tanpa bermaksud membesarkan hati orang Hindu namun berkaca dari Weda itu sendiri yang sampai dunia pralaya pun akan tetap ada.Anehnya, justru agama Hindu sering mendapat serangan secara teologis,psikologis dan bahkan fisik oleh agama-agama lain,tengok saja konversi orang-orang Hindu ke Kristen pada saat Inggris menjajah India.Segala macam bentuk serangan-serangan itu menjadikan orang-orang Hindu dan ajarannya semakin survive dan lentur menghadapi berbagai keadaan dengan tidak menutup adanya orang-orang Hindu yang banyak terpengaruh doktrinisasi agama lain. Jadi yang namanya pelecehan,serangan terhadap agama Hindu tidak hanya terjadi di Bali,namun hampir di seluruh dunia.Sehingga bukan hal baru lagi. Sebagai orang Hindu,saya berkeyakinan yang sangat tinggi apa yang disampaikan oleh mahaguru diatas adalah benar dan kebenarannya tinggal menunggu waktu saja.
Seperti kita ketahui bahwa, Indonesia adalah negara dengan populasi umat muslim(Islam) yang begitu besar. namun sayangnya, kekuatan yang besar ini sering kali “lupa” mengayomi yang “kecil”. Sehingga sering kali kita lihat pelecehan-pelecehan seperti diatas.Untungnya,minoritas Hindu di negeri ini selalu mengalah dalam berbagai peristiwa yang dialaminya. Lihat saja,pada saat terjadi bom Bali I dan II, penderitaan itu kita balas dengan upacara penyucian.Kurang apa lagi umat Hindu di Indonesia? Mungkin kurangnya adalah kurang mau mengikuti atau ikut/pindah ke ajaran mereka yang “besar”. Di jaman modern ini, menurut Anand Krishna, seorang cerdik pandai lintas agama, unsur spritualitas akan semakin mendapat tempat di hati setiap orang di saat agama justru menjadi media yang memperlebar jarak antar manusia.Kalau kita cermati,semakin banyak orang barat yang ikut meditasi,yoga dan pengetahuan tentang nilai-nilai dunia timur, ikut membenarkan pernyataan Anand Krishna. Agama Hindu sekali lagi menunjukkan kelasnya sebagai agama universal,tidak pernah mengklaim meditasi dan yoga itu sebagai miliknya.Sebenarnya banyak sekali pembuktian-pembuktian yang menunjukkan bagaimana dewasanya agama tertua di bumi ini terutama menghadapi kekerdilan sikap agama-agama yang lebih muda usianya. Namun itu cukup menjadi referensi yang hendaknya membuat kita lebih bijaksana dalam menyikapi segala sesuatunya. Jayalah Hindu!Satyam Eva Jayate!

Peace,

Satria Madangkara
www.dwijasuastana.blogspot.com

World Climate Change

Nowdays, the world climate has been change rapidly. The environment getting hot, hot and hot. Eventhough, a world conference was held recently in Bali, but until today no real action taken by the countries.Number of forests around the world are decrease so fast because of human being’s crime to the environment. So, we are awating for pralaya(the end of the universe)

Dwija 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.