Manusia Bali, Antara Harta & Karakter Asli

Dewasa ini, ketika segala sesuatu dapat diukur dengan uang, apapun keinginan seseorang, maka uang yang menjadi panglimanya. Bahkan kerapkali kita melihat, mendengar, membaca, manusia berperang, berkelahi, dengan sesamanya hanya gara-gara uang. Uang, uang, dan uang. Bagaimana dengan manusia Bali????

Tidak dapat dipungkiri, telah terjadi banyak pergeseran tata nilai yang kini tengah menjangkiti manusia Bali. Masyarakat Bali yang dikenal begitu ramah, murah senyum, tenggang rasa dan sifat-sifat baik lainnya, mengalami dinamika yang begitu drastis. Perkembangan dunia pariwisata di Bali yang demikian pesat, turut mempengaruhi karakter asli orang Bali. Gemerincing dolar, gaya hidup ala barat, menjadi keseharian sebagian orang berduit di Bali. Tidak mau kalah, kaum menengah pun tidak mau ketinggalan, dengan berbagai cara, mereka berusaha mengikuti arus zaman. Entah dengan cara kredit, menggadai, dsb, orang-orang pada berlomba-lomba agar dapat memiliki motor atau mobil baru misalnya. Sehingga tidak mengherankan, macetnya jalanan di Bali, sedikit tidaknya dipengaruhi oleh hal ini. Kompetisi hidup manusia Bali cenderung mengarah ke hal-hal yang tidak sehat. Sebut saja suatu kasus, misalnya Pan Anu punya mobil baru atau naik jabatan, sontak saja tetangganya pada bikin gosip,bahkan karena sifat dasar iri hati, ada yang sampai tega mencarikan ilmu hitam. Itu terjadi di desa saya. Bahkan, terakhir, seperti ramai diberitakan media lokal Bali, terbius ingin menguasai harta pasiennya, seorang dukun tega menghabisi sebuah keluarga di Karangasem. Duh! Gejala Apa ini?? Ini pun adalah secuil kasus dari sekian banyak kasus yang terjadi dalam masyarakat Bali.
Pengalaman saya saat ini, kebetulan merantau ke luar Indonesia, dan berada ditengah komunitas pekerja dari Indonesia( Bali mayoritas). Sungguh membuat saya berdecak…bukan berdecak kagum..namun…mengelus dada mengamati perilaku orang-orang kita(Indonesia-Bali), yang sedemikian ironis dengan keseharian kita di Bali!!!Tapi tolong dicatat, bukan saya bermaksud sok suci..tapi ini adalah pengamatan saya sebagai penulis blog ini, jadi anggap saya tidak terlibat didalamnya…(padahal ada ditengah-tengah mereka..hehehe). Singkatnya begini, terkait dengan paragraf pertama diatas, kalau saya amati kehidupan orang-orang Indonesia(Bali) di tempat saya mencari sesuap nasi, sangat jauh dari keseharian hidup pada waktu mereka di Bali. Contoh, kalau di Bali, orang-orang Bali yang bergelut dalam pekerjaannya begitu cool, tanpa neko-neko dan seleg. Rasa tepo seliro antar rekan kerja begitu alami dan bagus. Namun ditempat saya, Mimih dewa ratu!! Saya dapat katakan, berbalik 180 derajat celcius! Kawan sendiri disikat!, Tidak peduli, kita berasal dari daerah yang sama. Memang ada perkumpulan pekerja Bali di tempat saya, tapi feeling saya mengatakan ITU SEMUA SEMU! PENUH KEPALSUAN!!! Yang baca artikel ini bisa protes ke saya, nanti akan saya berikan jawaban super gamblang, tenang aja, OK!? Demi uang dan kedudukannya, orang menghalalkan segala cara. Tapi dipermukaan semua SOK SUCI! Gila Bener!!!!….Tapi mungkin saya juga termasuk..pokoke, Depang anake ngadanin!

Persatuan yang ada antara pekerja dari Bali(Indonesia) bersifat semu alias hanya dipermukaan saja. Hari ini kita begitu baik dengan teman kerja, besoknya mungkin bisa jadi musuh, karena suatu hal, mungkin karena masalah pekerjaan, atau memperebutkan tulang tanpa isi. Tapi itu adalah realita. Individualisme menjadi paham lama yang menjangkiti pekerja Bali di tempat saya bekerja sekarang. Mungkin ini yang menyebabkan posisi tawar pekerja Bali disini sangat lemah, Padahal belum ada yang sampai kena lemah syahwat, tapi kita begitu mudah di adu domba oleh kapitalis barat yang membayar kita dengan murah. Tapi ini sudah menjadi resiko kita, mau apa lagi!!!Dari segi skill, padahal kita diatas rata-rata pekerja lainnya, baik dari Thailand, Filipina, Australia,Singapore dan bahkan orang lokal sekalipun, yang hanya menang omong besar saja!

Masih ingat dengan tokoh sangut, atau sekuni dalam cerita pewayangan?? Nah, kalau ditempat saya kerja, siapa yang bisa memerankan tokoh itu dalam panggung sandiwara tempat saya kerja, dia akan selamat sentosa dan dapat kedudukan nyaman dan disayang bos! Lucunya, mungkin sudah takdir, tempat karyawan sering nongkrong, dinamakan dengan CENK BLONK!! CENK BLONK adalah nama grup wayang terkenal di Bali. Sehingga klop-lah, kita memerankan berbagai karakter pewayangan,namun, perlu dicatat, tokoh sangut atau sekuni-lah yang paling sering diperankan di CENK BLONK!

Apa yang Harus Dilakukan??

Yach…Saya tidak tahu…yang jelas, jalani apa adanya, tidak mencoba tuk menjadi sangut, atau, delem, atau yang lainnya. Tapi kalau pekerjaan saya sich delem sangut merdah tualen!tahu artinya?? Coba?? heheehehe…..

Rahajeng!

Satria Madangkara!

Advertisement

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.